Larangan Perkawinan Bulan Tuwun Ditinjau Menurut Maqashid Syariah

  • Mustafid Mustafid IAIN Padangsidimpuan
Keywords: Marriage, Custom, Maqashid Shariah

Abstract

Di desa Sibiruang memiliki adat istiadat yang masih ditaati sampai saat sekarang, larangan perkawinan ketika bulan tuwun adalah salah satu adat istiadat yang masih di pertahankan oleh masyarakat hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami larangan perkawinan ketika bulam tuwun  dengan melihat dari sudut pandang Maqashid Syariah. Adat istiadat sangat menarik untuk diteliti karena akan selalu mengalami perkembangan atau perubahan dengan berubahnya waktu, begitu juga dengan hukum Islam akan bisa berubah dengan seiring berubahnya masa. Tulisan ini berupaya untuk mencari bagaimana pandangan Maqashid Syariah terhadap larangan perkawinan ketika bulan tuwun, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengemukakan tradisi larangan perkawinan ketika bulan tuwun. Hasil yang ditemukan bahwa agama Islam betujuan untuk menjaga keturunan (Hifdz Nasab) dan cara menjaganya adalah dengan perkawinan. Adanya larangan perkawinan ketika bulan tuwun membuat waktu diperbolehkan untuk menikah menjadi sempit, sehingga kemashalatan umat tidak didapatkan, pada dasarnya tidaklah dilarang untuk menikah pada waktu itu, kemudian ditakutkan juga ketika ada larangan seperti itu akan membuat pasangan yang akan menikah melakukan sesuatu yang senonoh karena tidak diperbolehkan menikah, atas dasar inilah larangan perkawinan ketika bulan tuwun tidaklah sesuai dengan Maqashid Syariah yang menginginkan kemashalatan umat.

References

al­Zuhaili, Wahbah. Fiqh al-Islam Adillatuhu. Jakarta: Gema Insani, 2011.

Anwar, Desi. Kamus Bahasa Indonesia Modern. Surabaya: Amelia, 2002.

Asra, Wawancawa, Sibiruang 6 Mei 2021.

Bukhari, Abu Muhammad bin Ismail bin Ibrahim. Shahih Bukhari. Kairo: Dharal Ibnu Hasim, 2004.

Ghozali, Abdul Rahman. Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.

Hamdani, Said bin Abdullah bin Thallib al-. Risalah nikah. Jakarta: Pustaka Amani, 2002.

Hariyon, Wawancara, Sibiruang 7 mei 2021.

Hasan Basri, Wawancara, Sibiruang 6 Mei 2021

Hasan, M. Ali. Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam. Jakarta: Siraja Prenada Media Group, 2006.

Hidayatulah, Rizki. “Penemuan Hukum Oleh Hakim Perspektif Maqashid Syariah”. TERAJU: Jurnal Syariah dan Hukum 2, no. 01 (2020).

Hosen, Ibrahim. Fiqh Perbandingan Masalah Perkawinan. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.

Kementerian Agama, Al-quran dan Terjemahan

Mahmudah, Nurul. “Tradisi Dutu Pada Perkawinan Adat Suku Hulondhalo” 5, no. 2 (2018): 8.

Muchtar, Kamal. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Munawir, Ahmad Warson. Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.

Oji sangkuik, Wawancara, Sibiruang 5 Mei 2020.

Rasjid, Sulaiman. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru al-Gesindo, 2004.

Rofiq, Ahmad. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 1998.

Rusy, Ibnu. Ringkasan Bidayatul Mujtahid. Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

Sahrani, Sohari, dan H. M. A. Tihami. Fikih Munakahat. Jakarta: PT Raja Grapimdo Persada, 2012.

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.

UU RI No. 1 Th. 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Citra Umbara, 2011.

Yasin, Fatihuddin Abul. Risalah Hukum Nikah. Surabaya: Terbit Terang, 2006.

Published
2021-09-27
How to Cite
Mustafid, M. (2021). Larangan Perkawinan Bulan Tuwun Ditinjau Menurut Maqashid Syariah. TERAJU: Jurnal Syariah Dan Hukum, 3(02), 61 - 70. https://doi.org/10.35961/teraju.v3i02.289
Section
Articles