http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/issue/feed TERAJU: Jurnal Syariah dan Hukum 2021-09-27T05:36:12+00:00 Teraju: Jurnal Syariah dan Hukum jurnalteraju@stainkepri.ac.id Open Journal Systems <p><strong>TERAJU: </strong>Jurnal Syariah dan Hukum yang&nbsp;terbit dua kali setahun pada Maret dan September oleh&nbsp;<a href="https://stainkepri.ac.id/">P3M dan Jurusan Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau</a> dengan <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?kirimdaftar&amp;1575254430&amp;11651&amp;&amp;">ISSN Online&nbsp;2715-386X</a> dan <a href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1575254694&amp;1376&amp;&amp;">ISSN Print&nbsp;2715-3878</a>. Berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, kajian analisis, aplikasi teori dan review kajian-kajian ilmu Syariah dan ilmu hukum. Penerbitan jurnal ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam menyebarluaskan kajian studi ilmu syariah dan ilmu hukum serta sekaligus sebagai wahana komunikasi di antara cendikiawan, praktisi, mahasiswa dan pemerhati kajian tersebut.[]</p> http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/article/view/289 Larangan Perkawinan Bulan Tuwun Ditinjau Menurut Maqashid Syariah 2021-09-27T05:36:11+00:00 Mustafid Mustafid mustafid@iain-padangsidimpuan.ac.id <p>Di desa Sibiruang memiliki adat istiadat yang masih ditaati sampai saat sekarang, larangan perkawinan ketika bulan tuwun adalah salah satu adat istiadat yang masih di pertahankan oleh masyarakat hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami larangan perkawinan ketika bulam tuwun&nbsp; dengan melihat dari sudut pandang Maqashid Syariah. Adat istiadat sangat menarik untuk diteliti karena akan selalu mengalami perkembangan atau perubahan dengan berubahnya waktu, begitu juga dengan hukum Islam akan bisa berubah dengan seiring berubahnya masa. Tulisan ini berupaya untuk mencari bagaimana pandangan Maqashid Syariah terhadap larangan perkawinan ketika bulan tuwun, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengemukakan tradisi larangan perkawinan ketika bulan tuwun. Hasil yang ditemukan bahwa agama Islam betujuan untuk menjaga keturunan (Hifdz Nasab) dan cara menjaganya adalah dengan perkawinan. Adanya larangan perkawinan ketika bulan tuwun membuat waktu diperbolehkan untuk menikah menjadi sempit, sehingga kemashalatan umat tidak didapatkan, pada dasarnya tidaklah dilarang untuk menikah pada waktu itu, kemudian ditakutkan juga ketika ada larangan seperti itu akan membuat pasangan yang akan menikah melakukan sesuatu yang senonoh karena tidak diperbolehkan menikah, atas dasar inilah larangan perkawinan ketika bulan tuwun tidaklah sesuai dengan Maqashid Syariah yang menginginkan kemashalatan umat.</p> 2021-09-27T03:24:26+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/article/view/294 Teori Maqashid Syariah Dalam Hukum Islam 2021-09-27T05:36:12+00:00 Ahmad Jalili jalili@stainkepri.ac.id <p>Artikel ini membahas maqashid syariah secara teoritis dengan pendekatan teks yang kemudian dijelaskan secara deskriptif dengan sumber data berupa Al-Quran, hadis dan buku-buku rujukan yang berhubungan dengan masalah dalam peneitian ini. Tujuan dari penelitian ini untuk menguatkan basis teori dari maqashid syariah sehingga menjadi bekal untuk penelitian-penelitian lebih lanjut. Hasil dari penelitian ini bahwa penguatan teoritis maqashid syariah merupakan sebuah keharusan ditengah-tengah masyarakat saat ini , yang mana kondisi dan keadaan selalu berubah-rubah, oleh sebab itu para mujtahid muslim harus bisa menemukan suatu konteks dari setiap teks yang ada baik al quran maupun al hadis sesuai dengan metode maqashid syariah agar bisa nantinya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ketika menyikapi problematika masa kini, karena memang dalam memahami nas baik quran maupun hadis tidak hanya dengan mengandalkan ilmu bahasa semata, akan tetapi ada faktor-faktor lain yang mendukung dan menentukan hasil dari setiap hukum, maka diperlukannya kontekstualisasi bukan untuk membuat syariat yang baru akan tetapi dalam rangka memberikan kemaslahatan kepada ummat dan tentu dengan tetap berpegang pada prinsip syariat.</p> 2021-09-27T03:25:45+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/article/view/295 Sistem Bagi Hasil Partelon Petani Padi Di Palengaan Kabupaten Pamekasan Perspektif Hukum Islam Dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah 2021-09-27T05:36:12+00:00 Moh Hasibuddin hasibuddin02@gmail.com Kudrat Abdillah kudrat.abdillah@iainmadura.ac.id <p><em>Muzara’ah</em> adalah akad kerjasama antara kedua belah pihak baik itu pemilik lahan dan juga penggarap yang mana benih pertanian tersebut ditanggung oleh pemilik lahan dan penggarap sebagai penerima jasa kerja. Pelaksanaan bagi hasil pertanian atau <em>Muzara’ah </em>&nbsp;merupakan kerjasama dalam bidang pertanian antara penggarap dan pemilik lahan dengan perjanjian bagi hasil <em>Partelon </em>dan tidak ada batasan waktu atas kerjasama tersebut, yakni berakhirnya kerjasama bagi hasil <em>Partelon </em>pertanian apabila sudah ada pernyataan dari salah satu kedua belah untuk mengakhirinya. Sedangkan pembagian hasil sistem <em>Partelon</em> yang dilaksanakan oleh kedua belah pihak tidak sama dengan pembagian hasil yang semestinya dilakukan oleh mayoritas masyarakat di desa tersebut yang seharusnya pemilik lahan sebagai penyedia benih mendapatkan hasil lebih dari penggarap.</p> <p>Fokus penelitian dari penelitian ini adalah tentang Bagaimana Penerapan Bagi Hasil system <em>Partelon Pertanian</em> dengan Akad <em>Muzara’ah </em>di Desa Potoan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan dan juga Bagaimana pandangan Islam mengenai Penerapan bagi hasil <em>Partelon </em>dengan Akad <em>Muzara’ah </em>di Desa Potoan Daja Kecamatan palengaan Kabupaten Pamekasan.</p> <p>Dalam penelitian ini peneliti memakai metode penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk meneliti fenomena yang dialami oleh subyek dengan jenis penelitian lapangan. Sumber data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk informannya adalah masyarakat Desa Potoan Daja sendiri mulai dari pemilik lahan, penggarap, Tokoh Agama, perangkat Desa dan masyarakat sekitar yang mengetahui Bagi Hasil dengan Akad <em>Muzara’ah </em>tersebut. Kemudian Teknik analisis data yang dipakai adalah mulai dari Reduksi Data, Penyajian Data dan Kesimpulan.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa: <em>Pertama</em>, Bagi Hasil system <em>Partelon </em>&nbsp;Pertanian dengan Akad <em>Muzara’ah </em>di Desa Potoan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan telah lama terjadi. Kesepakatan yang terjadi hanya melibatkan pihak pemilik lahan dan penggarap tanpa melibatkan pihak ketiga atau perangkat Desa setempat. <em>Kedua, </em>pandangan Hukum Islam mengenai Bagi Hasil dengan Akad <em>Muzara’ah </em>di Desa Potoan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan ini hukumnya adalah mubah karena kedua belah pihak sama-sama rela dan tanpa ada pihak yang memaksa.</p> 2021-09-27T05:00:46+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/article/view/296 Perspektif Hukum Islam Tentang Memperjual Belikan Dan Memakai Pakaian Ketat Bagi Muslimah 2021-09-27T05:36:12+00:00 Arpan Zaman arpan17zaman@gmail.com <p>Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan perspektif Hukum Islam tentang memperjualbelikan dan memakai pakaian ketat bagi muslimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum memperjual belikan dan memakai baju ketat bagi muslimah menurut islam. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan sumber data berupa buku-buku rujukan yang berhubungan dengan masalah dalam peneitian ini. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dari perspektif hokum Islam memperjualbelikan dan memakai pakaian ketat bagi muslimah hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, marilah kita menjauhi untuk memperjualbelikan dan memakai pakaian ketat.</p> 2021-09-27T05:02:38+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stainkepri.ac.id/index.php/teraju/article/view/262 Peran Isteri Dalam Keluarga Masa Kini Telaah Sejarah Sosial Pemikiran Hukum Islam 2021-09-27T05:36:12+00:00 Maylissabet Maylissabet mayli.tsabit@gmail.com Zulfan Efendi zulfan.efendi@stainkepri.ac.id <p>Artikel ini menelaah peran isteri sesuai dengan sejarah sosial pemikiran hukum Islam, memahami konteks peran isteri dan meneladani motivasi pada setiap tahap sejarah, akan membantu mengaplikasikan peran seorang isteri sesuai dengan tujuan dan maksud yang dicita-citakan untuk masa kini bahkan yang akan datang. Penulis menggunakan Teori teks dan Konteks oleh Ali Syari’ati yang digunakan oleh penulis menelaah permasalahan yang ada sehingga diharapkan dapat menelaah pergeseran peran isteri dari masa ke masa. Hal ini bertujuan agar keutuhan keluarga tetap tercipta hingga kapanpun sesuai dengan ajaran Islam.</p> 2021-09-27T05:03:37+00:00 ##submission.copyrightStatement##